LensaData.org, Probolinggo – Seorang pria lanjut usia bernama Mutasan, 70, meninggal dunia setelah terbakar saat membakar sampah di lahan miliknya di Desa Lambangkuning, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Selasa (20/10/2026) siang. Korban yang diketahui menjabat sebagai ketua RT setempat diduga terjebak ketika api membesar dan merambat ke area lahan yang sedang dibersihkannya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebelum kejadian korban membersihkan lahan yang sebelumnya ditumbuhi pohon bambu. Setelah bambu-bambu di lahan tersebut ditebang dan dijual, korban berinisiatif membersihkan sisa dedaunan kering dan sampah yang menumpuk di area barongan.
Sampah dan dedaunan kering itu kemudian dikumpulkan menjadi satu untuk dibakar. Namun, api diduga membesar akibat embusan angin kencang hingga dengan cepat menyebar ke seluruh area lahan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief, mengatakan peristiwa tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 12.30 WIB.
“Lahan itu awalnya dipenuhi pohon bambu. Bambunya sudah ditebang dan dijual oleh korban. Setelah itu, korban maunya membersihkan barongan,” kata Oemar.
Menurutnya, luas area barongan yang terbakar diperkirakan mencapai 25 meter kali 10 meter. Saat api semakin membesar, korban sempat berupaya memadamkannya. Namun, kobaran api terus meluas hingga korban terjatuh dan tubuhnya ikut terbakar.
“Korban sempat berusaha memadamkan api, tapi api terus membesar. Alhasil korban terjatuh dan terbakar,” ujarnya.
Sekretaris Desa Lambangkuning, Tiagus, mengaku belum mengetahui secara pasti siapa warga yang pertama kali menemukan korban. Ia menduga korban ditemukan setelah api padam, dalam kondisi sudah meninggal dunia dengan tubuh mengalami luka bakar.
“Itu sepertinya sudah padam apinya. Baru kemudian ada warga yang melihat dan laporan,” kata Tiagus.
Sementara itu, petugas BPBD Jawa Timur, Slamet, menyampaikan bahwa korban diketahui memiliki riwayat sesak napas. Kondisi tersebut diduga dapat memperburuk keadaan korban ketika berhadapan dengan asap dan kobaran api. Namun, penyebab pasti kematian korban belum dapat dipastikan hanya berdasarkan informasi tersebut.
“Saat ini korban masih dievakuasi ke rumah duka, menunggu arahan lebih lanjut dari pihak berwajib dan keluarga. Apakah mau dibawa ke rumah sakit atau seperti apa,” ujarnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko membakar sampah dan dedaunan kering di area terbuka, terutama ketika angin bertiup kencang. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat membesar dan sulit dikendalikan, sehingga pembakaran sampah perlu dihindari dalam kondisi yang berisiko.