PROBOLINGGO — Di sebuah rumah sederhana di Dusun Krajan 1, Desa Sumberan, Kecamatan Besuk, waktu terasa berjalan berbeda bagi keluarga Nada Putri Masruri. Setiap hari bukan sekadar rutinitas, melainkan perjuangan untuk mempertahankan harapan agar putri kecil mereka tetap bertahan.

Nada, yang telah lama dinantikan selama tujuh tahun oleh kedua orang tuanya, awalnya tumbuh sebagai anak ceria. Ia kerap menemani ibunya mengajar di taman kanak-kanak, bermain dan tertawa bersama anak-anak lain. Namun kebahagiaan itu perlahan berubah sejak usianya sekitar 50 hari.

Saat itu, ibunya mulai menyadari adanya kejanggalan. Bagian putih mata Nada tampak menguning, disertai perubahan warna tinja menjadi pucat. Keluarga sempat mengira kondisi tersebut hanyalah penyakit kuning biasa pada bayi. Namun, hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi yang jauh lebih serius.

Nada didiagnosis menderita Atresia Bilier, sebuah penyakit langka yang menyebabkan saluran empedu tidak berfungsi dengan baik sehingga merusak hati secara bertahap. Selain itu, ia juga memiliki kelainan jantung bawaan jenis ASD secundum.

Sebagai upaya penyelamatan, Nada menjalani operasi Kasai pada usia 90 hari. Prosedur ini diharapkan dapat membantu aliran empedu agar fungsi hati membaik. Namun, harapan tersebut tidak terwujud. Operasi dinyatakan gagal karena kadar bilirubin tetap tinggi dan kondisi hati tidak menunjukkan perbaikan.

Sejak saat itu, kondisi Nada terus menurun. Ia sering mengalami infeksi berulang yang ditandai dengan demam, diare, serta batuk dan pilek. Dalam beberapa kondisi, ia bahkan sempat tidak sadarkan diri. Kini, penyakit yang dideritanya semakin parah, ditandai dengan muntah darah dan buang air besar berdarah—indikasi kerusakan hati yang sudah sangat serius.

Dalam kesehariannya, Nada harus menghadapi berbagai ketidaknyamanan. Tubuhnya sering terasa gatal akibat penumpukan bilirubin, hingga ia menggaruk kulitnya sampai terluka. Ia juga kerap menolak mandi karena rasa perih pada luka-lukanya. Perutnya membesar akibat pembengkakan hati dan limpa, sementara warna kulitnya semakin menggelap.

Perkembangannya pun terhambat. Di usianya yang telah lebih dari dua tahun, Nada belum mampu berjalan sendiri. Semua aktivitasnya masih bergantung pada bantuan orang tuanya.

“Dia sebenarnya anak yang kuat. Saat menjalani tindakan medis, dia seperti mengerti. Tetap menangis, tapi tidak pernah mempersulit,” ujar sang ibu, Siti Aisyah.

Saat ini, satu-satunya harapan medis bagi Nada adalah transplantasi hati. Tanpa tindakan tersebut, kondisi kesehatannya akan terus memburuk dengan risiko yang sangat tinggi.

Namun, harapan itu terbentur dengan keterbatasan ekonomi. Ayah Nada, M. As’ad, bekerja sebagai tenaga honorer dengan penghasilan sekitar Rp1 juta per bulan. Sementara ibunya, seorang guru taman kanak-kanak, hanya memperoleh sekitar Rp300 ribu per bulan. Penghasilan tersebut bahkan tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk biaya transplantasi hati yang mencapai ratusan juta rupiah.

Seluruh tabungan keluarga telah habis. Perhiasan yang dimiliki telah dijual, dan berbagai upaya telah dilakukan untuk mencukupi kebutuhan pengobatan. Selain biaya medis, keluarga juga harus menanggung biaya transportasi rutin dari Probolinggo ke Surabaya untuk kontrol, serta kebutuhan susu khusus yang mencapai sekitar Rp400 ribu setiap 3–4 hari.

Meski dalam kondisi sulit, keluarga tetap bertahan dan berharap. Mereka percaya bahwa masih ada peluang bagi Nada untuk sembuh, selama transplantasi hati dapat segera dilakukan.

Kini, keluarga membuka harapan kepada masyarakat luas untuk turut membantu perjuangan Nada. Bantuan dapat disalurkan melalui:
https://kitabisa.com/campaign/nadabisaberobat

Bagi kedua orang tuanya, setiap bantuan yang diberikan bukan hanya soal materi, tetapi juga harapan dan tambahan waktu bagi Nada untuk terus bertahan.

Di tengah segala keterbatasan, mereka hanya menginginkan satu hal sederhana: kesempatan bagi putri mereka untuk hidup lebih lama, tumbuh, dan merasakan masa kecil yang seharusnya.