LensaData.org, Roma - Real Madrid menunjukkan mentalitas pantang menyerah dengan membalikkan keadaan dan menaklukkan AS Roma 4-3 dalam lanjutan matchday kedua Liga Champions, Kamis (15/10/2026) dini hari WIB. Sempat tertinggal 1-3, Los Blancos bangkit pada menit-menit akhir dan mencetak tiga gol untuk memastikan kemenangan dramatis di Stadion Olimpico.

Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Roma. Tim tuan rumah sempat berada di atas angin setelah unggul dua gol, tetapi gagal mempertahankan keunggulan ketika pertandingan memasuki fase akhir. Tiga gol yang bersarang dalam kurun waktu sekitar tujuh menit membuat kemenangan yang sudah di depan mata berubah menjadi kekalahan menyakitkan.

Roma sebelumnya tampil meyakinkan dan mampu menekan Madrid melalui permainan berintensitas tinggi. Gol-gol yang dicetak Marten de Roon dan Donyell Malen membawa tuan rumah unggul 3-1. Keunggulan tersebut bertahan hingga memasuki 10 menit terakhir waktu normal.

Namun, Madrid memperlihatkan daya juang berbeda pada penghujung pertandingan. Pergantian pemain yang dilakukan pelatih Jose Mourinho memberikan tenaga baru bagi serangan Los Blancos. Carlos Espi dan Endrick turut menyumbangkan gol, sementara Arda Guler berperan dalam terciptanya gol penentu yang dicetak Antonio Ruediger.

Kebangkitan Madrid membuat suasana Stadion Olimpico berubah drastis. Roma yang sebelumnya mampu mengendalikan permainan justru kesulitan membendung gelombang serangan tim tamu. Dalam waktu singkat, keunggulan yang mereka bangun sepanjang pertandingan lenyap.

Mourinho mengakui Roma tampil lebih unggul pada sebagian besar pertandingan. Namun, menurutnya, intensitas permainan yang tinggi menguras tenaga para pemain tuan rumah, sehingga Madrid mampu memanfaatkan situasi tersebut pada fase akhir.

“Anda bisa mengatakan, tadi itu dua permainan dalam satu pertandingan, Roma superior di setiap aspek di pertandingan pertama, dan kemudian Real Madrid mustahil dihentikan dalam 20 menit,” ucap Mourinho kepada Amazon Prime Italia.

Ia menilai keunggulan 3-1 sempat membuat banyak orang menganggap pertandingan telah berakhir. Kenyataannya, Madrid justru mampu mengubah jalannya laga ketika Roma mulai kehilangan kendali.

“Setelah ketinggalan 1-3, mungkin orang-orang berpikir pertandingannya sudah berakhir, tapi satu-satunya yang tamat adalah pemain-pemain Roma,” sambung pelatih asal Portugal tersebut.

Mourinho juga menjelaskan bahwa intensitas permainan Roma menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi fisik para pemain. Madrid kemudian memaksimalkan momentum dengan meningkatkan tekanan dan melancarkan serangan bertubi-tubi.

“Sangat sulit bermain dengan intensitas seperti ini dan gaya sepak bola yang mereka mainkan. Kami melakukan pergantian pemain, karena kebobolan tiga, empat, lima gol tidak membuat banyak perbedaan. Roma tidak mampu mengatasi gempuran serangan yang kami lepaskan,” ujarnya.

Mental Roma Jadi Sorotan

Kekalahan dramatis tersebut turut menimbulkan kekecewaan di kubu Roma. Penyerang Matias Soule menilai timnya kehilangan fokus pada saat yang paling menentukan. Ia menyebut kebobolan tiga gol dalam waktu singkat menjadi tanda adanya persoalan yang perlu segera dibenahi.

Menurut Soule, Roma sebenarnya memiliki peluang besar untuk mengamankan kemenangan setelah tampil baik selama sebagian besar pertandingan. Namun, kesalahan dalam situasi bola mati membuat mereka kehilangan keunggulan.

“Saya tidak bisa berkata-kata, pertandingannya ada di tangan kami sepenuhnya dan kami menyia-nyiakannya di tiga sepak pojok,” ujar Soule kepada Amazon Prime Video Italia.

Ia menegaskan bahwa pertandingan harus dijalani dengan konsentrasi penuh selama 90 menit, termasuk waktu tambahan. Menurutnya, tim tidak boleh kehilangan fokus hanya karena sudah unggul dalam skor.

“Ini harus jadi pelajaran berharga, kami harus fokus sepenuhnya selama 90 menit plus injury time. Saya kira ini pasti masalah mental, karena ketika Anda kebobolan tiga gol yang identik dalam tujuh menit, pasti ada yang salah,” katanya.

Meski kecewa, Soule mengingatkan rekan-rekannya agar tidak mengabaikan penampilan positif yang telah ditunjukkan sebelum kebobolan pada menit-menit akhir. Ia berharap kekalahan tersebut menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kelemahan tim.

“Kami kecewa, tapi kami tidak boleh mengabaikan semuanya begitu saja karena kami main sangat bagus. Menyakitkan kalah seperti ini setelah menunjukkan performa yang bagus begitu lama,” lanjutnya.

“Kami harus mengambil positifnya dan memperbaiki kekurangan untuk belajar dari sana,” tambah Soule.

Hasil ini membuat Roma baru mengoleksi satu poin dari dua pertandingan di Liga Champions musim ini. Paulo Dybala dan rekan-rekannya sementara menempati peringkat ke-25 klasemen.

Sebaliknya, kemenangan melalui remontada ini memperlihatkan kemampuan Madrid memanfaatkan momentum hingga menit terakhir. Bagi Roma, kekalahan tersebut menjadi pengingat bahwa keunggulan besar belum menjamin kemenangan jika konsentrasi dan organisasi pertahanan tidak terjaga sampai peluit akhir.