PROBOLINGGO  -  Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) BEM SI Kerakyatan Jawa Timur tahun ini berlangsung dengan nuansa berbeda. Untuk pertama kalinya, forum organisasi mahasiswa tersebut digelar di lingkungan pondok pesantren, yakni Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Probolinggo.

Rakerwil yang berlangsung pada 5–7 Oktober 2026 itu tidak hanya menjadi forum penyusunan agenda organisasi. Kehadiran BEM SI Kerakyatan di lingkungan pesantren menjadi momentum untuk mempertemukan tradisi intelektual mahasiswa dengan nilai pengabdian yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan pesantren.

Mengusung tema “Lembaran Baru BEM SI Kerakyatan Jatim: Mengukuhkan Independensi, Mengakar pada Aspirasi, Mengawal Keadilan untuk Rakyat”, forum tersebut diikuti unsur mahasiswa dan sejumlah pemangku kepentingan daerah.

Grand Opening Rakerwil dihadiri unsur Forkopimda Kabupaten Probolinggo, perwakilan Forkopimda kawasan Tapal Kuda, jajaran UNUJA, serta perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Presiden Mahasiswa UNUJA sekaligus Koordinator Isu Nasional EBT BEM SI Kerakyatan, Hedi Firmansyah, mengatakan pemilihan UNUJA sebagai lokasi Rakerwil memiliki makna tersendiri.

Menurutnya, lingkungan pesantren memiliki tradisi panjang dalam membangun hubungan antara ilmu, perjuangan, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Ini perdana BEM SI mengadakan Rakerwil di pondok pesantren. Semangatnya sejalan dengan apa yang diwasiatkan KH Zaini Mun’im, bahwa santri yang tidak berjuang di masyarakat dan hanya memikirkan ekonomi serta pendidikannya sendiri, beliau tidak ridha,” ujar Hedi.

Dari Kampus untuk Masyarakat

Hedi menilai gagasan tersebut memiliki relevansi dengan gerakan mahasiswa. Menurutnya, pendidikan tinggi tidak cukup menghasilkan mahasiswa yang unggul secara akademik, tetapi juga harus membangun kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

Karena itu, pelaksanaan Rakerwil di UNUJA diharapkan tidak hanya menghasilkan agenda internal organisasi, tetapi juga memperkuat orientasi gerakan mahasiswa terhadap persoalan sosial.

“Semangatnya bukan hanya bagaimana mahasiswa mendapatkan ilmu, tetapi bagaimana ilmu tersebut dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pengabdian dan perjuangan,” ujarnya.

Nilai tersebut menjadi salah satu alasan Rakerwil BEM SI Kerakyatan Jatim diarahkan sebagai ruang konsolidasi sekaligus pemetaan berbagai persoalan publik.

Membawa Persoalan Rakyat ke Forum Mahasiswa

Koordinator Wilayah BEM SI Kerakyatan Jawa Timur, Moh Iskil El Fatih, mengatakan forum tersebut menjadi momentum untuk menentukan arah gerakan organisasi dalam menghadapi berbagai persoalan publik.

Menurut Iskil, mahasiswa harus tetap memiliki posisi independen dan menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah.

“BEM SI Kerakyatan tidak hadir untuk membenarkan kekuasaan. Kita berdiri bersama rakyat. Ketika ada kebijakan yang merugikan masyarakat, kita akan kritik dan kita kawal,” tegas Iskil.

Sejumlah isu dibahas dalam forum tersebut, di antaranya kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran, kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, persoalan kelangkaan BBM, hingga isu keadilan dalam Tragedi Kanjuruhan.

Bagi BEM SI Kerakyatan Jatim, persoalan tersebut tidak berhenti sebagai bahan diskusi. Hasil pembahasan Rakerwil akan menjadi dasar untuk menentukan agenda advokasi organisasi setelah forum berakhir.

“Jangan berpikir setelah Rakerwil ini selesai maka persoalannya juga selesai. Justru setelah ini kita mulai bergerak. Apa yang hari ini kita petakan akan kita kawal,” kata Iskil.

Pesantren dan Gerakan Mahasiswa

Pertemuan antara tradisi pesantren dan gerakan mahasiswa dalam Rakerwil tersebut menjadi salah satu warna tersendiri dalam pelaksanaan forum.

Pesantren selama ini tidak hanya dipandang sebagai ruang pendidikan keagamaan, tetapi juga memiliki tradisi pengabdian dan kepedulian sosial. Sementara gerakan mahasiswa memiliki fungsi intelektual sekaligus kontrol terhadap berbagai persoalan publik.

Pertemuan dua tradisi tersebut diharapkan dapat membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai bagaimana pendidikan, intelektualitas, dan gerakan sosial dapat berjalan beriringan.

Rakerwil BEM SI Kerakyatan Jawa Timur di UNUJA akhirnya bukan sekadar agenda organisasi mahasiswa. Forum tersebut menjadi ruang untuk merumuskan kembali bagaimana mahasiswa menempatkan dirinya di tengah persoalan masyarakat—dengan ilmu sebagai bekal dan pengabdian sebagai orientasi gerakan.