Pengurus Besar Ikatan Santri Kalimantan Barat (ISKAB) menjadikan Malam Keakraban (Makrab) sebagai pintu awal kaderisasi berkelanjutan bagi santri asal Kalimantan Barat yang tengah menempuh pendidikan di berbagai pesantren di Jawa Timur.
Makrab yang digelar di MWC NU Paiton, Probolinggo, pada 26–27 Agustus 2026 itu mempertemukan santri-santri baru asal Kalimantan Barat dari berbagai rayon yang tersebar di sejumlah pesantren di Jawa Timur.
Ketua Panitia Pelaksana Makrab, David Agustio, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda penyambutan santri baru, tetapi juga menjadi ruang untuk saling mengenal dan membangun jejaring antarsantri asal Kalimantan Barat.
Ketua Umum ISKAB, Irzam Abdellah, mengatakan Makrab memiliki fungsi yang lebih luas. Selain mempertemukan santri baru dan memberikan pematerian, kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses kaderisasi organisasi.
“Makrab adalah gerbangnya,” ujar Irzam dalam sambutannya.
Menurutnya, ISKAB membutuhkan jenjang kaderisasi yang berkelanjutan. Karena itu, Makrab diposisikan sebagai tahap awal untuk memperkenalkan santri baru pada organisasi sekaligus membangun proses kaderisasi yang dapat berlangsung secara berkesinambungan.
Irzam menilai keberlanjutan kaderisasi penting agar keberadaan ISKAB tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu menjadi ruang pembentukan dan pengembangan kader santri Kalimantan Barat.
Ia juga mengingatkan para peserta agar memaksimalkan proses selama berada di Jawa Timur. Menurutnya, para santri suatu saat akan kembali ke Kalimantan Barat dan berjuang di daerah masing-masing.
“Jangan lupa jalan pulang. Kita dari Kalimantan Barat yang suatu saat nanti akan berjuang di rumah kita masing-masing. Maka maksimalkan proses kita sekarang ini,” pesannya.
Makrab tersebut mengusung tema “Rekonstruksi Arah Gerak Santri: Menguatkan Organisasi, Menghidupkan Tradisi dan Menjawab Tantangan di Era Digital.”