Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Santri Kalimantan Barat (ISKAB), Irzam Abdellah, mendorong kader ISKAB untuk tidak menjauh dari persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Menurutnya, santri harus memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan di daerah asalnya.

Pesan tersebut disampaikan Irzam saat memberikan materi dalam Malam Keakraban (Makrab) ISKAB di MWC NU Paiton, Probolinggo, Rabu (26/8/2026).

Irzam menilai kader ISKAB perlu mengetahui apa yang sedang terjadi di Kalimantan Barat. Ia mencontohkan kebakaran hutan yang berdampak terhadap masyarakat sebagai salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian kader.

“Kita tidak boleh hanya menjadi penonton sejarah. Kita harus menjadi bagian dari sejarah itu,” ujar Irzam.

Menurutnya, identitas sebagai santri dan pelajar asal Kalimantan Barat tidak cukup hanya diwujudkan melalui ikatan organisasi. Kader juga perlu membangun kepedulian terhadap persoalan sosial yang dihadapi masyarakat di daerah asal.

Di sisi lain, Irzam menegaskan ISKAB tidak diarahkan untuk terlibat dalam politik praktis. Organisasi tersebut, kata dia, merupakan organisasi non-profit yang memiliki tujuan berdasarkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.

Meski tidak terlibat dalam politik praktis, hal itu tidak berarti kader harus apolitis. Bagi Irzam, kader tetap perlu memiliki kesadaran terhadap persoalan masyarakat dan mampu mengambil sikap berdasarkan nilai dan ideologi yang menjadi pijakan organisasi.

Dengan demikian, proses kaderisasi di ISKAB tidak hanya diarahkan untuk membentuk kemampuan berorganisasi, tetapi juga membangun kesadaran kader terhadap realitas sosial di daerah asalnya.

Makrab ISKAB berlangsung pada 26–27 Agustus 2026 dan diikuti santri Kalimantan Barat dari berbagai rayon di pesantren-pesantren Jawa Timur. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Rekonstruksi Arah Gerak Santri: Menguatkan Organisasi, Menghidupkan Tradisi dan Menjawab Tantangan di Era Digital.”